Cabang dan Pusat Berkumpul


Ada seorang sufi besar ketika ziarah ke makam Rasulullah SAW, duduk di hadapan makam dengan penuh kerendahan dan kelemahan bersyair:

‎إن قيل زرتم بما رجعتم

‎يا أكرم الخلق ما نقول

Jika ada yang bertanya:

“Apa yang kalian bawa pulang setelah ziarah makam Nabi?”

Wahai makhluk termulia, bagaimana kami menjawabnya?


Lalu ada sebuah suara yang menggema dari makam Nabi dan didengar semua orang yang ada di masjid Nabawi:

‎قولوا رجعنا بكل خير

‎واجتمع الفرع والأصول

Jawablah dengan berkata:

“Kami pulang membawa segala kebaikan”

“Cabang dan Pusat sudah berkumpul.”


‎لولاك يا زينة الوجود

‎ما طاب عيشي ولا وجودي


Tanpamu, Wahai Keindahan Semesta

hidup dan keberadaan ku tak akan indah 


‎ولا ترنمت في صلاتي

‎ولا ركوعي ولا سجودي


Dan aku tak akan bisa bernyanyi dalam shalatku, 

dalam rukukku dan dalam sujudku


‎أيا ليالي الرضا علينا

‎عودي ليخضر منك عودي


Wahai Malam-malam yang penuh keridhaan

Kembalilah agar menghijaukan rantingku (jiwaku)


‎عودي علينا بكل خير

‎بالمصطفى طيب الجدود


Kembalilah dengan membawa segala kebaikan

dengan berkah Nabi Yang Terpilih, sebaik-baiknya kakek


‎بالله صلني فداك روحي

‎ذبت من الهجر والصدود


Sampaikanlah kepada Nabi Penebus Jiwaku:

Hancur aku jika ditolak dan ditinggal pergi

 

‎أنا الذي همت في هواكم

‎يوما أراكم يكون عيدي


Aku tergila-gila mencintaimu

Hari di mana aku bisa berjumpa denganmu

adalah hari rayaku



Dari screen capture di atas dari risalah singkat milik Imam Jalaluddin as-Suyuthi (الشرف المحتم) qosidah diatas dinisbatkan kepada Sayyid Ahmad ar-Rifa'i. Sedangkan banyak yang menisbatkan qosidah di atas kepada Sayyid Ahmad al-Badawiy, seperti yang tertulis di bawah.



Keduanya memang memiliki nama yang sama, Ahmad. Tapi keduanya adalah nama sufi besar yang berbeda. Sayyid Ahmad ar-Rifa'i pendiri tarekat Rifa'iyah lahir (512 H) dan wafat (578 H) di Irak. Sedangkan Sayyid Ahmad al-Badawiy pendiri tarekat Badawiyah-Ahmadiyah lahir di kota Fes, Maroko (596 H) dan wafat di kota Thantha, Mesir (675 H).


حياة السيد البدوى | السيد أحمد طبيعة

Sayyid Ahmad al-Badawiy semasa hidupnya yang diriwayatkan hampir 80 tahun memilih menjomblo, tidak menikah. Sedangkan Sayyid Ahmad ar-Rifa'i menikah dan jadi wali karna sabar menghadapi istrinya.

 


صفحات من أخبار الأنبياء والعلماء والأولياء والحكماء في الصبر على الزوجات والحلم عليهن | يوسف أبجيك السوسي | دار الفتح 


Dikisahkan dari Ulama Hambali, Syekh Muhammad bin Yahya at-Tadifi dalam kitab Qolaidu al-Jauhar. Seorang sahabat Sayyid Ahmad ar-Rifa’i bermimpi melihat beliau berada di surga dan terus berulang kali. Akan tetapi ia merahasiakannya. Ternyata Sayyid Ahmad ar-Rifa’i memiliki istri yang galak beliau sering dicaci istrinya. Suatu hari dalam mimpi sahabat yang bermimpi melihat Sayyid Ahmad ar-Rifa'i di surga dan melihat beliau dipukul bahunya oleh istrinya menggunakan kayu pengorek tungku sampai bajunya hitam. Tetapi, Sayyid ahmad ar-Rifa'i hanya diam.   


Melihat kejadian tadi, sahabat tadi resah dan mengumpulkan sahabat-sahabat yang lain. “Begini, kawan-kawan sekalian. Sayyid Ahmad ar-Rifa'i mendapat perlakuan kasar dari istrinya, sementara kita tidak berbuat apa-apa.” Kemudian terbesit dalam pikiran mereka agar Sayyid Ahmad ar-Rifa'i menceraikan istrinya. Tapi masalahnya Sayyid Ahmad ar-Rifa'i orang fakir, tidak mampu untuk memberi ganti mahar senilai 500 dinar untuk menceraikan istri.   


Mereka pun mengumpulkan uang dan menghampiri Sayyid Ahmad ar-Rifa'i untuk menyerahkan uang tersebut. Melihat uang sebanyak itu, Sayyid Ahmad ar-Rifa'i bertanya, “Uang untuk apa ini?” Para sahabat menjawab, “Ini sebagai ganti mahar untuk istri Sayyid yang sudah berlaku kasar.”    


Sayyid Ahmad ar-Rifa'i hanya tersenyum dan berkata, “Andaikan bukan karena kesabaran menghadapi omelan dan pukulan istri, kau tidak akan bermimpi melihatku di surga.”




حياة السيد البدوى | إبراهيم أحمد نور الدين | حقوق الطبع محفوظة للمؤلف، مصر،

Tetapi Sayyid Ahmad al-Badawiy punya keterkaitan dengan Sayyid Ahmad ar-Rifa'i. Diriwayatkan, Sayyid Ahmad al-Badawiy pernah melakukan rihlah ke Irak. Perjalanannya ke Irak disebabkan karena ketertarikannya kepada dua tokoh besar Irak, yaitu; Syekh Abdul Qodir al-Jailani dan Sayyid Ahmad ar-Rifa'i. Bahkan beliau sering memimpikan mereka.



السيد أحمد البدوي | دكتور عبد الحليم محمود | دار المعارف، كورنيش النيل


Suatu malam, datanglah syekh Abdul Qadir al-Jailani beserta Sayyid Ahmad ar-Rifa’I bertamu dalam mimpi Sayyid Ahmad al-Badawiy. “Wahai Ahmad, kami datang kepadamu membawa kunci kewalian tanah Iraq, Yaman, India, Sind, Romawi, daerah timur dan barat di tangan kami. Kunci kewalian manapun yang engkau inginkan akan kami berikan,” ujar syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Syekh Ahmad Ar-Rifa’i. 


Sayyid Ahmad al-Badawiy dengan penuh kerendahan hati dan lembut menjawab, “Aku tak dapat mengambil kunci kewalian daerah manapun kecuali atas kunci yang Allah kehendaki untukku.”


Entah mana yang benar, dinisbatkan kepada siapa qosidah di atas, kepada Sayyid Ahmad ar-Rifa’I atau kepada Sayyid Ahmad al-Badawiy. Semoga kita, cabang (الفرع) yang cinta Kanjeng Nabi, Rasulullah SAW bisa berkumpul (اجتمع) dengan Rasulallah SAW, Pusat (الأصول) walau bukan sebab nasab, tapi sebab ilmu dan akhlak.

Posting Komentar