Ilustrasi : © pascalcampionart/ Instagram
Entah, sejak kapan dia datang, berdiri di halaman pikirku. Sempatku intip, sepertinya dia membawa kenyamanan dan keindahan. Lalu tiba-tiba senyumnya mengetuk-ngetuk hatiku. Membuat dadaku tiba-tiba sesak seperti disergap sebuah rasa yang asing tetapi indah yang tiba-tiba hadir. Khayalanku pun menari-nari diiringi melodi hati yang beraliran bahagia. Melayang anganku di atas keindahannya dan tak ingin turun karena terasa nyaman. Tanpa diperintah diam-diam bibirku bergerak menyebut namanya memanjatkan doa berharap kenyamanannya. Sehingga timbul perasaan ingin menemuinya, mengajaknya masuk dan menjamunya seperti tamu agung, dengan harapan dan keyakinan berharap dia nyaman dan bahkan menetap.
Pikiranku ambil peran, aku pun menimbang-nimbang. Apakah perasaan ini cinta, atau nafsu belaka? Jika ini cinta kenapa aku hanya memikirkan kenikmatan? Jika perasaan ini nafsu belaka kenapa dadaku sesak? Jika perasaan ini cinta maka aku sedang jatuh cinta yang mana konsekuensinya adalah tertawan. Untuk menjamunya aku harus siap melakukan apa saja agar dia tak kecewa dan aku tak ter sakiti. Karena من احب شئ فهو عبده “barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akan menjadi budaknya (tertawan)”. Jika perasaan ini hanya nafsu belaka apa bedanya aku dengan hewan yang hanya ingin memenuhi hasrat kesenangan saja dan menjadikannya hiburan layaknya sebuah permainan. Setelah kesenanganku terpenuhi ku tinggalkan dia begitu saja. Apakah itu pantas untuk dijadikan jamuan?
Kini aku memilih untuk diam yang pura-pura tak mendengar ketukannya, tak berani menemuinya, tak ingin mempersilakannya masuk bahkan menjamunya. Aku takut salah dalam menjamu tamu. Karena pikiran yang bimbang antara cinta yang tak sanggup kulakukan konsekuensinya dan nafsu yang hanya akan membuatku hina. Sehingga memilih diam akan menimbulkan sepi dan akan membuatnya pergi. Dan tak perlu ada jamuan yang ku siapkan. Tapi aku merasakan senyumnya mengetuk-ngetuk hatiku dan kulihat juga dari intipanku tadi ia membawa kenyamanan dan keindahan yang membuat rasa bergemuruh untuk menemuinya. Sesak dadaku, khayalanku, anganku, dan gerak bibirku bukti bahwa aku ingin menemuinya. Aku berpikir kembali apakah diamku yang akan menimbulkan sepi dan akan membuatnya pergi, dan ketukan juga kenyamanan dan keindahan akan sirna begitu saja? Tanpa ada rasa kekecewaan dan sesal yang muncul untuk membodohiku? Dadaku, khayalanku, anganku, dan gerak bibirku yang hadir sebagai saksi tak bisa aku berbohong dari interogasi rindu. Aku ingin menemuinya, tapi apa yang harus kujadikan jamuan untuknya?
Aku berpikir kembali. Membuka lembaran kisah cinta Laila Majnun yang legendaris dan mengingat-ingat kisah cinta Zainudin dan Hayati dalam karangan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Dari dua kisah cinta yang senafas itu aku ingin mengambil pelajaran bagaimana menemukan jamuan untuknya. Supaya tak ada timbul kecewa untuk aku, dan apalagi dia. Dari dua kisah cinta yang nahas itu aku tak ingin menjadi Qais yang dadanya terus bergemuruh dan bergetar menahan kecewa dan rindu sebab ia tak bisa menolak kehadiran cinta yang telah merasuk diam-diam dan kemudian menyatu ke dalam jantung jiwanya. Sehingga dikumandangkannya perasaannya itu kepada semesta. Tapi penolakan dari ayah Laila dan kabar pernikahan Laila membuatnya menjadi gila (Majnun). Qais kemudian mengembara tanpa arah dan membiarkan tubuhnya tak terurus. Rambutnya penuh debu dan semrawut. Ia mengarungi padang pasir yang luas dalam terik matahari yang membakar tubuhnya, seperti panas hatinya yang terbakar oleh cinta kepada Laila. Dan aku juga tak ingin menjadi Zainudin yang ternyata tak mampu menutup rapat-rapat perasaan rindunya karena kekecewaan yang didapat dari Hayati yang ingin kembali bersama Zainudin. Ia jatuh sakit setelah kepergian Hayati. Rasa sesal dan kecewa akibat menolak cinta lamanya itu membuat dirinya tak berdaya hingga berujung kematian. Aku tak ingin berujung nahas seperti dua kisah cinta legendaris itu. Aku terlalu pengecut untuk menjadi Qais Majnun yang berani menjamu Laila dengan mengumandangkan cinta. Dan aku tak bisa hidup tenang seperti Zainudin yang menjamu Hayati dengan terus berusaha menutup rasa rindunya kepada Hayati. Aku adalah seorang pecundang.
Akhirnya aku menemukan jamuanku sendiri. Sebuah jamuan yang berisi perasaan yang ku anggap penyakit. Perasaan yang membuat dadaku sesak, khayalanku menari-nari, anganku melayang-layang. Perasaan yang mengajakku untuk terus terjaga untuk mengingat-ingat namanya, menyebutnya ke dalam doaku. Tapi, masih diselimuti lumuran nafsu bukan sebuah cinta yang murni. Sebagaimana penyakit pada umumnya perasaan yang ku anggap penyakit ini pasti ada penawarnya. Ku pikir menjadikannya jamuan untuknya juga bisa menjadi sebuah penawar untukku selain untuk menghormati tamu. Karena tak ada lagi perasaan yang disembunyikan, yang akan membuatku lega. Juga bukan perasaan yang diungkapkan, sehingga aku tak peduli akan sebuah jawaban. Karena perasaan ini telah menjadi jamuan yang akan disantapnya, jamuan yang menjadi kewajibanku sebagai tuan rumah untuk menghormati tamu. Dan aku tak perlu meminta sebuah balasan atas jamuanku kepada tamu.
Kini aku pun berani menemuinya, mengajaknya masuk untuk menjamunya dengan jamuan yang sudah kusiapkan. Maka tak ku gunakan lagi dhomir ghoibah dan yang ku gunakan kini adalah dhomir mukhotobah. Yang ada kini, aku dan kau. Ya, tamu itu kau. Dan kau kini sudah mengerti apa yang kurasakan. Karena apa yang kursakan sudah kujadikan sebuah jamuan untukmu. Ingat, jamuan ini bukan sebuah ungkapan yang diselamurkan dan bukan sebuah ungkapan yang seakan-akan berbentuk jamuan. Jamuan ini adalah sebuah cara untukku agar kau mengerti inilah rasaku, rasa yang masih diselimuti lumuran nafsu, rasa yang masih menjadi penyakit. Untuk itu silakan kau nilai sendiri jamuan yang ku berikan padamu. Aku tak meminta kau membalas jamuanku ini. Yang aku minta darimu jadilah dirimu sendiri. Tak usah kau terpengaruh oleh jamuanku.


Posting Komentar