Senin, 12 Robiul Awal Tahun Gajah (50-55 hari setelah Raja Abrahah beserta pasukan bergajahnya gagal menyengang Ka’bah) atau tanggal 09 Robiul Awal bertepatan dengan tanggal 20 april 571 M menurut Syekh Mahmud Basyan Al-Falaky. Pada pagi hari di Syiid Abi Tholib atau Syiib Bani Hasyim di kediaman Abdul Mutholib. Sayyidah Aminah binti Wahab Istri Sayyid Abdullah bin Abdul Mutholib melahirkan seorang anak laki-laki. Sebuah kegembiraan, karena sebab kelahiran tersebut Sayyidah Aminah mendapatkan keagungan yang belum pernah didapat oleh perempuan selainnya. Yang mana dia diberi kandungan seorang yang lebih Utama dari kandungan yang dikandung oleh orang sebelumnya, yaitu Siti Maryam ibu Nabi Isa AS. Seseorang yang kelak menjadi Rosul utuk seluruh umat manusia, menjadi Nabi akhir dan menjadi pemimpin para Nabi. Kembiraan tersebut dikabarkanya lewat seorang utusan kepada mertuanya, yaitu Sayyid Abdul Mutholib bahwa dia telah melahirkan cucu laki-laki. Mendapat kabar tersebut Abdul Mutholib sangat bergembira lalu memberi nama kepada cucunya dengan nama Muhammad. Nama yang belum populer di Tahah Arab sebelumnya. Dengan maksud supanya kelak cucunya menjadi orang yang terpuji di bumi dan di langit.
Kegembiraan ini juga terdengar oleh Abu Lahab (paman Nabi Muhammad SAW) lewat budaknya yang bernama Tsuaybah Al-Aslamiyah. Akibat kekembiraan dari kabar kelahiran ponakannya, Abu lahab memerdekakan Tsuaibah Al-Aslamiyah dan kemudian mengutusnya untuk menyusui Nabi Muhammad SAW. Tetapi kelak setealah Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rosul, Abu Lahab menjadi salah satu orang yang menentang Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan risalah kenabian. Bahkan sosok kekufurannya diceritakan di dalam surat tersendiri dalam Al-Quran.
Ada riwayat dari Sayyidina Abbas RA, paman sekaligus shahabat Nabi bahwa, setelah kematian Abu Lahab beliau bertemu dengannya di dalam mimpi. Ditanyakan kepdanya: “Bagaimana keadaanmu sekarang?” Abu Lahab menjawab: “Aku mendapat siksa dari Allah, tetapi pada setiap malam hari senin Allah meringankan siksaku, aku bisa meminum air yang keluar dari jari-jariku. Sebab dulu aku bergembira karena kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan memerdekakan Tsuaibah dan menyuruhnya untuk menyusui Nabi Muhammad SAW”.
Sementara itu, Imam Al-Hafidz Asy-Syamsuddin Ad-Dimasyqi dalam syairnya :
إذا كان هذا كــــافر جاء ذمه
بتبت يداه فى الجحيـــم مخلـــدا
أتى أنه فى يوم الإثنين داىٔمـا
يخفف عنـــــه للسرور بأحمد
فما الظن بالعبد كان عمره
بأحمد مسرورا ومات موحدا
"Jika orang kafir ini telah ditetapkan cercaan kepadanya di dalam Surat Al-Lahab, dan dia kekal di dalam Neraka Jahim."
"Ada keterangan bahwa dia diberi keringanan siksa pada setiap hari senin karena bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW."
"Maka, bagaimana sekiranya dengan seseorang yang sepanjang umurnya selalu bahagia dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW, serta wafat seraya meng-Esa-kan Allah."
Dari uraian di atas terdapat ibrah, sebuah pelajaran bahwa, merayakan, bergembira dengan rasa syukur atas maulid/kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan merupakan perbuatan yang sia-sia, tidak layak dilakukan dan bahkan bid’ah menurut golongan tertentu. Mereka yang menolak Maulid dapat dengan mudah terbantahkan. Bagaimana tidak, Abu Lahab saja yang membenci dakwah Nabi Muhammad SAW diringankan siksanya karena bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW sendiri saja sering melakukan puasa pada hari Senin sebagai bentuk syukur atas kelahirannya;
عن أبي قتادة الأنصاري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم سئل عن صوم الاثنين؟ فقال فيه ولدت وفيه أنزل علي
“Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari bahwa suatu ketika Rasulullah ditanyai mengenai kebiasaannya berpuasa di hari Senin. Rasulullah pun bersabda ‘Di hari Senin-lah aku dilahirkan dan di hari Senin-lah diturunkan (Al-Qur’an) kepadaku” (HR Muslim).
Sebagai penutup, mengutip sepenggal bait qosidah karya Syekh Abdurrahman Ad-Diba’i:
صلاة الله ما لاحــــت كـــــواكب
على احمد خير من ركب النجائب
ولـو انا عـــــملنا كــــــل حـــــين
لأحمد مــــولدا قد كـــان واجــب
علـــيه من المهيمن كـــل وقــت
صــــلاة ما بدا نـــور الكــــواكـب
تـــعم الال والأصحـــاب طــــــرا
جميعــهم و عترته الأطايــــــــب
"Selagi cahaya bintang masih gemerlap, semoga rahmat Allah Tercurah kepada Nabi Muhammad, Sang pengendara unta terbaik."
"Dan seandainya kami beramal setiap hari pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka sungguh hukumnya wajib."
"Setiap waktu kumohonkan untuknya dari Allah rahmat. Selama bintang-bintang masih bercahanya."
"Yang merata kepada keluarga dan para sahabat semuanya. Serta semua keturunannya yang baik-baik lagi mulia."
اللهم صل وسلم وبارك علیه و على آله
Refrensi:
-Syaikh Shofiyur Rahman al-Mubarakpuri, Sirah Nabawiyah, Yogyakarta: Diva Press, 2021.
-As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Mukhtasor Fi Sirah Nabawiyah, Tanpa Kota: Tanpa Penerbit, Tanpa Tahun.
-KH. Asrori Ahmad, Munyatul Murtaji Fii Tarjamati Maulidul Barzanji, Kudus: Menara Kudus, Tanpa Tahun.
-Umar Abdul Jabar, Kholasoh Nurul Yaqin Fii Sirati Sayyidil Mursalin Al-Juz Al-Ula, Tanpa Kota: Tanpa Penerbit, Tanpa Tahun.
-Syekh Abdurrahman ad-Diba’I, Maulud Ad-Diba’i, Tanpa Kota: Tanpa Penerbit, Tanpa Tahun.


Posting Komentar