Hajiku Ada di Depan Pintu Rumahku


Ka'bah. Foto: Unsplash @hydngallery

Pada suatu tahun ketika bulan Haji ada seorang bernama Abdullah bin Mubarrak. Setelah menyelesaikan ibadah hajinya, ia lalu tertidur di Tanah Haram. Di dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Setelah sampai, kedua malaikat itu pun saling berbincang satu sama lain:

“Ada berapa orang yang berhaji pada tahun ini?”

“Enam ratus ribu orang”

“Berapa orang di antara mereka yang hajinya diterima?”

“Tidak ada. Kecuali seorang laki-laki yang tinggal di Damaskus dan bekerja sebagai tukang jahit sandal, dia bernama Muwaffaq. Hajinya diterima walau dia tidak berangkat ke Tanah Haram dan karena berkah hajinya, diterimalah haji enam ratus ribu orang tadi.”

Setelah mendengar perbincangan kedua malaikat itu, spontan Abdullah bin Mubarrak terbangun dari tidurnya. Ia lalu memutuskan untuk bergegas pergi ke Damaskus mencari laki-laki tukang jahit sandal yang bernama Muwaffaq karena rasa penasaran yang didapat dari mimpinya.

Singkat cerita sampailah ia di Damaskus, di depan pintu sebuah rumah. Setelah diketuk keluarlah seorang laki-laki. Abdullah bin Mubarrak bertanya pada laki-laki itu, apakah dia tukang jahit sandal dan bernama Muwaffaq. Laki-laki itu pun menjawab bahwa dirinya adalah tukang jahit sandal dan bernama Muwaffaq. Abdullah bin Mubarrak lalu menceritakan mimpinya ketika di Tanah Haram kepada Muwaffaq dan bertanya kebaikan apa yang telah ia lakukan, sehingga bisa mengantarkannya menjadi haji mabrur tanpa harus berangkat Ke Tanah Haram dan memberkahi seluruh jamaah haji sehingga mereka juga diterima hajinya.

Muwaffaq lalu menjelaskan, bahwa sesungguhnya ia ingin sekali pergi melakukan ibadah haji ke Tanah Haram. Tetapi karena keadaan ekonominya yang sulit, keinginannya belum bisa terlaksana. Sampai pada akhirnya ia berhasil mengumpulkan uang 300 dirham dari hasil pekerjaannya menjahit sandal. Ia pun berniat berangkat haji dengan uang 300 dirham itu. Tetapi niatnya itu tidak terlaksana karena suatu sebab.

Suatu hari istri Muwaffaq yang sedang hamil mencium aroma makanan dari rumah tetangganya. Akibat aroma makanan tetangganya itu istri Muwaffaq menginginkan makanan tersebut. Karena istrinya sedang hamil dan mengidam, Muwaffaq lalu menuju rumah tetangganya untuk meminta makanan tersebut dan memberikannya kepada si istri. Sesampainya di rumah tetangganya keluarlah seorang perempuan. Setelah menceritakan maksud dan tujuan Muwaffaq. Perempuan itu lalu berkata: ”Sungguh, kau telah memaksaku (memberikan makanan ini) dengan (kau ceritakan) keadaanmu”.

Perempuan itu lalu melanjutkan perkataannya dengan menceritakan kejadian sebelum makanan itu ada dan tercium oleh istri Muwaffaq. Bahwa, ia adalah seorang perempuan janda yang memiliki beberapa anak yatim, yang selama tiga hari mereka belum makan apa pun sama sekali. Ketika ia keluar rumah untuk mencari makanan, yang ditemukan hanyalah bangkai seekor keledai. Mengingat beberapa anak yatimnya yang belum makan selama tiga hari, dipotonglah sedikit daging bangkai keledai itu dan dibawa pulang untuk dimasak. Perempuan itu lalu berkata kepada Muwaffaq: ”Makanan ini halal bagi kami dan haram bagi kalian”

Mendengar cerita perempuan itu Muwaffaq bergegas pulang ke rumah dan mengambil uang 300 dirham yang sudah terkumpul dan ia niatkan untuk pergi melaksanakan ibadah haji ke Tanah Haram. Lalu Ia berikan seluruh uang itu kepada tetangga perempuannya dan berkata: ”Rawatlah anak-anak yatimmu dengan uang ini”. Muwaffaq lalu menutup ceritanya dengan berkata: ”Sesungguhnya hajiku ada di depan pintu rumahku”

*Disadur dari kisah yang ada dalam kitab Isyadul ‘Ibad karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al-Malibari yang dikaji di Pondok Pesantren Al-Mahalli Brajan setiap malam kamis oleh Bapak Kyai Hasyimi. Dan disiarkan secara live streaming di channel YouTube Al-Mahalli Brajan.

Posting Komentar