Sebagai seorang muslim seharusnya kita bersyukur karena bisa dipilih oleh Allah SWT untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan, bulan yang istimewa membawa banyak keberkahan dan keutamaan, bulan yang sangat mulia. Maka sambutlah bulan Ramadhan ini dengan perbuatan atu hal-hal yang mulia.
Dalam sebuah hadist Rasulallah SAW menyebutkan kemulian bulan Ramadhan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ
Diriwayatkan dari Abi Hurairoh radhiyallahu ‘anhu, dia telah berkata: Rasulallah SAW telah bersabda: “Apabila tiba bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, serta syetan-syetan diblenggu.”
Dari hadist di atas berarti ketika bulan Ramadhan seharusnya kita banyak melakukan perbutan yang sifatnya ibadah karena pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga terbuka. Dan seharusnya kita menjauh dan menghindar dari perbuatan-perbuatan maksiat. Karena pada bulan Ramadhan pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan diblenggu.
Dalam bulan Ramadhan terdapat kewajiban bagi setiap muslim dan Muslimah untuk melaksanakan puasa. Puasa di bulan Ramadhan adalah sebuah kewajiban yang banyak mememiliki keutamaan. Diantara keutamaannya yang didawuhkan oleh Rasulallah lewat hadist-hahdist yaitu:
Akan diampuni dosa yang terlewat dan dosa yang akan datang.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَ خَرَّ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa yang sudah terlewat dan yang akan datang.”
Dalam kitab Terjemah Tanqihul Qoul Juz Dua KH. Ahmad Mudjab Mahalli memberikan keterangan dari hadist di atas: “Yang dimaksud dengan imanan wahtihsaban adalah mempunyai keyakinan bahwa sesungguhnya melaksanakan puasa Ramadhan itu hukumnya fardhu (wajib) dan ketika melaksanakan Puasa itu karena berharap ridho Allah SWT.”
Akan mendapatkan kebahagiaan berupa surga.
وَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ أَذِنَ اللهُ تَعَالَى لِلسَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْ تَكَلَّمَا لَقَالَتَا بُشْرَی لِمَن صَامَ رَمَضَانَ بِالْجَنَّةِ.
Rasulallah SAW telah bersabda: “Jika Allah ta’ala memberian idzin kepada langit dan bumi berbicara, maka keduanya akan berkara: “Kebahagiaan yang besar bagi orang yang melaksanakan puasa Ramadhan. Ia akan meperoleh surga”.
Pada hadist di atas dalam kitab yang sama, KH. Ahmad Mudjab Mahalli juga memberikan keterangan: “Seorang yang menjalankan puasa Ramadhan dengan ikhlash menjalankan perintah Allah SWT akan mendapatkan balasan surga. Maka dari itu kaum muslimin ketika menjalankan puasa Ramadhan harus menegakkan niat, yaitu karena menharap ridho Allah SWT dan menjalankan kewajiban.”
Selain keutamaan puasa, bulan Ramadhan juga memiliki malam yang istimewa. Malam yang keutamaannya melebihi seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Seperti yang telah dinaskan oleh Allah SWT dalam surat Al-Qadr bahwa pada Lailatul Qadar Allah menurunkan Al-Qur’an, mengutus para malaikat untuk mengatur segala urusan, memiliki kebaikan dari seribu bulan, dan kesejahtraan itu berlangsung sampai terbitnya fajar.
Malam Lailatul Qadar yang sangat istimewa ini rasanya sayang jika kita tidak dapatkan dan guanakan untuk beribadah mengharap ridha Allah SWT. Alangkah ruginya jika seseorang melewatkan satu malam yang kebaikannya melebihi seribu bulan.
Agar kita tidak melewatkan Lailatul Qadar dengan keistimewaan di dalamnya Rasulallah SAW bersabda dalam sebuah hadist:
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Diriwayatkan dari Aisyah RA, dia telah berkata: Rasulallah SAW telah bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan.”
Pada hadist di atas dalam buku Hadist-Hadist Muttafaq ‘Alaih, KH. Ahmad Mudjab Mahalli memberikan keterangan: “Hadist di atas menerangkan tentang keistimewaan Lailatul Qadar, atau malam seribu bulan. Sebab beribadah pada malam itu pahalanya tidak kalah dengan beribahah (sunat) selama seribu bulan. Pada malam Lailatul Qadar hendaklah kita memperbanyak amal kebajikan, lebih-lebih beri’tikaf di masjid dan berdzikir kepad Allah SWT. Lailatul Qadar turun pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan pada tanggal ganjil. Namu ada juga yang berpendapat pada tanggal tujuh belas Ramadhan. Tetapi yang lebih masyhur adalah yang malam sepuluh akhir bulan Ramadhan.”
Dari keterangan-keterangan di atas yang memperjelas betapa istimewanya bulan Ramadhan maka sudah barang mesti kita harus memuliakannnya dengan kemulian. Maka tidak heran jika banyak majlis-majlis melakukan kegiatan yang bentuknya memuliakan bulan Ramadhan, mulai dari mengaji, tarawih, tadarus, dhuha, dll. Yang dilakukan mulai dari terbit fajar sampai fajar lagi. Itu semua dilakukan semata-mata dengan niat untuk memuliakan bulan Ramadhan dan mengharap ridho Allah SWT.
Semoga apa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan ini dibalas oleh Allah SWT dengan ridho-Nya. Dan semoga di tahun-tahun yang akan datang kita bisa terpilih lagi oleh Allah SWT untuk menjamu bulan Ramadhan yang mulia dengan tambah mulia lagi.


Posting Komentar