KH. Abdul Wahab Hasbullah; Kaum Santri Pahlawan Pejuang Kemerdekaan



يا للوطن، يا للوطن، يا للوطن // حب الوطن منالإيمان //  ولاتكن من الحرمان // انهضوا أهل الوطن // اندونيسيا بلادى // أنت عنوان الفخاما // كل من يأتيك يوما // طامحا يلق حماما //  كل من يأتيك يوما // طامحا يلق حماما

Pusaka hati wahai tanah airku // Cintamu dalam imanku // Jangan halangkan nasibmu // Bangkitlah, hai bangsaku! // Indonesia negriku // Engkau Panji Martabatku // S’yapa datang mengancammu // ‘Kan binasa di bawah durimu!

Lirik lagu “Ya Lal Wathon” yang sering kita nyayikan di atas adalah syair penyederhanaan dari syair “Syubbanul Wathon” (Pemuda Tanah Air) yang dikarang pada tahun 1916 oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971), salah satu tokoh penting dalam berdirinya Nahdlatul Ulama’ (NU). Mbah Wahab juga merupakan tokoh yang berpengaruh dalam peroses kemerdekaan Indonesia.

KH. Maimoen Zubair (1928-2019) mengizahkan syair tersebut ketika Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut; Ketua GP Ansor 2016-Sekarang & Mentri Agama 2020-Sekarang) dan Nusron Wahid (Ketua GP Ansor 2011-2015) sowan pada tahun 2012. Karena Mbah Moen teringat masa ketika beliau mondok di madrasah Syubbanul Wathon yang mana Mbah Wahab selalu memperintahkan seluruh santrinya untuk menyanyikan syair “Subbanul Wathon” sebelum memulai pelajaran. Baru pada Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) GP Ansor Angkatan Ketiga di Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung (10 -14 Januari 2013) syair “Subbanul wathon” disederhakan menjadi lagu yang kita kenal dengan mars “Ya Lal Wathon” yang selalu menggema setiap kegiatan-kegitan Pesantren dan NU.




Gambar syair “Subbanul Wathon”. Di ambil pada buku Dr. Choirul Anam dengan judul KH. Abdul Wahah Chasbullah Hidup dan Perjuangannya (Surabaya: PT. Duta. Aksara Mulia, 2015). Halaman 209.

Mbah Wahab, setelah kepungannya dari belajar di Mekah (1914) kurang lebih dua tahun, tepatnya pada tahun 1916 mendirikan Nahdlatul Wathon sebagai wadah untuk menumbuhkan nasionalisme lewat jarur pendidikan. Di sinilah para pemuda khususnya kaum santri dibekali keilmuan dan jiwa nasionalisme. Sama seperti yang di alami Mbah Moen, para pelajar Nahdlatul Wathon juga wajib hukumnya sebelum pembelajaran menyanyikan syair “Subbanul wathon”.

Syair “Subbanul Wathon” pada masa penjajahan tertancap kuat pada hati para Kyai dan Kaum Santri. Doktrin Hubbul Wathon Minal Iman membakar gelora semangat perjuangan untuk mengusir penjajah. Para Kyai dan Kaum santri mempersembahkan jiwa dan raga mereka untuk kemerdekaan tanah air.

Selain lewat jarur pemikiran pada Nahdlatul Wathon, Mbah Wahab juga ikut memperjuangkan kemerdekaan lewat jalur pergerakan di Laskar Hizbullah. Laskar yang didirikan menjelang berakhirnya masa pendudukan Jepang, yaitu 08 Desember 1944. Laskar ini berdiri dengan tujuan menjadi cadangan kekuatan pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Laskar yang berdiri dari basis umat islam khususnya kaum santri ini menjadikan pondok-pondok pesantren sebagai markas perjuangan. Maka tak aneh jika banyak pondok-pondok pesantren yang dibumihanguskan, termasuk pesantren Al-Mahalli kita tercinta yang juga pernah dibumihanguskan pada masa penjajahan. Mbah Wahab sendiri pernah tercatat di Laskar Hizbullah ketika pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945.

Akibat dari jasa-jasa Mbah Wahab peresiden Joko Widodo menganugrahkan gelar pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 115/TK/ Tahun 2014 tanggal 07 November 2014.

Perjuangan Mbah Wahab lewat pemikiran dan pergerakannya bersama kaum santri untuk memerdekakan tanah air ini hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita. Sebagai Santri yang hidup pasca kemerdekaan kita seharusnya rela mempersembahkan jiwa dan raga untuk menjaga Indonesia yang sudah terbebas dari penjajah. Sebagai penghormatan kita kepada jasa-jasa pahlawan tak ada tawar-menawar untuk menjual NKRI, Pancasila, Bhinneka Tungal Ika, dan UUD 1945 yang sudah final ini dengan apapun dan atas kepentingan apapun.


Refrensi:

•Rizem Aizid, “Selayang Pandang K.H. Abdul Wahab Hasbullah: Latar, Pemikiran, dan Gerakannya”, (Yogyakarta: Diva Prees, 2023)

•KH. Yahya Cholil Staquf (Ketua Umum PBNU 2022-2027), “Yaa Lal Wathan”, Lagu Patriotis Karya KH Wahab Hasbullah”, (NU Online: www.nu.or.id)

•Dr. Jamal Ma’mur Asmani, M.A., “Jihad Keilmuan dan Kebangsaan Pesantren”, (Yogyakarta: IRCiSod, 2022)

Dr. Choirul Anam, “KH. Abdul Wahab Chasbullah: Hidup dan Perjuangannya”, (Surabaya: PT. Duta. Aksara Mulia, 2015)

Posting Komentar