![]() |
KH. Agus Salim Muda setelah lulus dari HBS Batavia, 1903. Sumber Foto: ANRI |
Lahir pada 08 Oktober 1884 di Koto Gadang, Sumatera Barat dengan nama Masyhudul Haq. Seorang siswa HBS (Hogere Burger School) yang brilian karena menjadi juara, bahkan bukan hanya di HBS Batavia tempat ia belajar tapi di seluruh HBS se Hindia Belanda, namun gagal kuliah karena beasiswanya yang diajukan R. A. Kartini ditolak.
KH. Agus Salim seorang diplomat ulung yang cakap beberapa bahasa asing. Tokoh publik yang punya intelektualitas dan spiritualitas yang matang.
Pada sekitar tahun 1923, tahun-tahun (1917-1927) pergesekan internal SI (Serikat Islam) yang menghasilkan dua kubu; SI Putih dan SI Merah. Dimana KH. Agus Salim menjadi tokoh central SI putih mendampingi HOS. Tjokroaminoto berhadapan dengan Semaoen dan Alimin tokoh central SI merah.
Pada sebuah rapat di mana KH. Agus Salim akan berpidato ada segerombolan pemuda di bagian belakang kerumunan yang datang dengan niat mengacau. Ketika KH. Agus Salim mulai berpidato segerombolan pemuda di belakang tadi mulai mengacau dengan mengembik, menirukan suara kambing "Mbek.... Mbek.... Mbek...." . Itu dituju untuk mengolok-olok KH. Agus Salim yang pada masa itu memiliki jenggot seperti kambing. Setelah ketiga kalinya emibikan itu disela oleh KH. Agus Salim dengan berkata: "Tunggu sebentar Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekedar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena di dalam agama Islam bagi kambing pun ada amanatnya, dan saya menguasai banyak bahasa."
Sjahrir salah satu pemuda dari segerombolan pemuda yang mengolok-olok saat itu mengaku; "Kami tidak tinggalkan ruangan, tetapi kami terima dengan muka merah gelak tawa dari hadirin lainya. Kami ingin tahu apa lagi yang beliau bicarakan, makin lama beliau bicara, makin asik kami dengarkan."
"Een leidersweg is een lijdensweg, leiden is lijdem." (“Jalur kepemimpinan adalah jalan penderitaan, memimpin adalah menderita.”)
Tepat pada hari ini, 70 tahun yang lalu, 04 November 1954 KH. Agus Salim menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 70 tahun. Al-Fatihah untuk beliau.
Sumber kisah: Buku "Seratus Tahun Haji Agus Salim"





Posting Komentar