Satu Abad A.A. Navis; Keritik Sosial Lewat Cerpen Robohnya Surau Kami



"Jika tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi." (A. A. Navis | Robohnya Surau Kami, 1956)

Surau, pada cerpen Robohnya Surau Kami bisa banyak dimaknai. Surau tak terbatas hanya pada bentuk bangunan. Surau bisa dimaknai diri manusia, jiwa seseorang yang beriman. Robohnya surau adalah robohnya jiwa seorang yang beriman. 

Surau yang dirawat, ketika seseorang memfokuskan kehidupannya di dunia yang dianggap fana ini untuk kehidupan bahagia besok di akhirat itu ternyata roboh, terbengkalai bersamaan ketika seseorang melupakan dirinya yang sedang hidup di dunia sebagai makhluk sosial, memiliki tugas kewajiban dan tanggung jawab terhadap sesama dan yang lain.

Kakek, garin (penjaga) surau. Jiwanya roboh, ia menggorok lehernya setelah subuh karena terkena bualan Ajo Sidi. Bualan Ajo Sidi merusak jiwa Kakek sebagai orang beriman yang sehari-hari beribadah, tinggal dan menjaga surau. Haji Saleh dalam bualan Ajo Sidi yang beranggapan dirinya sudah hidup sesuai dengan apa yang Tuhan wajibkan, sudah saleh. Ternyata setelah mati ia dijewer dan digiring malaikat masuk neraka. Ternyata ketika hidup di dunia yang dianggap fana ia lupa sebagai makhluk sosial punya kewajiban dan tanggung jawab terhadap sesama dan yang lain. Ia terlalu fokus habluminallah dan lupa habluminannas.

"Kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halau lah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!" (A. A. Navis | Robohnya Surau Kami, 1956)

A. A. Navis sebagai cerpenis tak hanya pandai bercerita ia mampu menyisipkan kritikan, satire, renungan dalam hal sosial-keagamaan. Baginya selain kesalehan spiritual, kesalehan sosial juga amat penting dalam kehidupan dunia yang fana untuk menuju kehidupan bahagia besok di akhirat. Ini juga menjadi semacam sindiran bahwa hidup tidak hanya melulu memikirkan ibadah ukhrawi semata, tetapi juga usaha duniawi yang juga sebagai penunjang ibadah dan memenuhi hak sesama dan yang lain. 



A. A. Navis nama yang belakangan saya kenal dengan Haji Ali Akbar Navis, lahir 17 November 1924 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Nama yang tak akan pernah saya lupakan semenjak masa aliyah. Lewat kumcer (kumpulan cerpen) Robohnya Surau Kami yang saya baca dari perpustakaan sekolah semasa aliah. Walau saya sudah lupa kesan pertama ketika membacanya. Nama A. A. Navis menjadi salah satu alasan kenapa saya, sering mengunjungi perpustakaan, mendapat omelan penjaga perpus karena masuk perpus sebelumnya tanpa sepatu atau alas kaki dan harus mencuci kaki terlebih dahulu, membawa buku keluar diam-diam tanpa melapor karena tidak membawa KTS atau malas dengan jangka pinjam dan denda jika telat mengembalikan. Nama yang menjadi salah satu alasan mengapa saya membaca.

Selamat Ulang Tahun A. A. Navis, Al-Fatihah.

#satuababaanavis #100tahunaanavis

Posting Komentar