
Gus Ali, Pengajian Rutinan Selasan @azwar
Dulu ketika Ibu saya kecil, Ibu sering ikut rutinan pengajian Selasan (setiap hari selasa) yang diampu KH. Ahmad Abdullah Haq Dalhar Watucongol (Mbah Mad Watucongol). Itu dilakoni Ibu dengan berjalan kaki dari rumah Ibu di Dusun Caruban, Ngluwar, Magelang ke Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Muntilan, Magelang dengan jarak tempuh kurang lebih 7 km, 1,5 jam perjalanan.
Dari cerita Ibu, rutinan pengajian Selasan itu sudah dimulai sejak Ibu belum lahir. Mulai sejak masa Kakek Mbah Mad, KH. Abdurrahman bin KH. Abdurrauf bin KH. Hasan Tuqo, lalu dilanjut KH. Nahrowi Dalhar (Mbah Dalhar, Ayah Mbah Mad), lalu Mbah Mad.
Kata Ibu, jamaah pengajian Selasan dulu ramai. Bahkan saking ramainya beberapa orang termasuk Ibu yang ngaji tak pernah melihat wajah Mbah Mad, pengampunya. Kalau ingin bertemu ya harus sowan. Tentu Mbah Mad juga tak perso seluruh jamaah. Tapi walaupun ramai kalau ada jamaah yang ngobrol Mbah Mad pasti perso dan menegurnya.
Sekarang rutinan pengajian Selasan yang sering Ibu hadiri semasa kecil masih berlanjut dan diampu putra Mbah Mad, KH. Ali Qoishor Abdul Haq Dalhar (Gus Ali). Karena cerita Ibu saya tertarik untuk mengikuti pengajian rutinan Selasan. Pikir saya itu untuk menyambung apa yang sudah Ibu mulai. Kalau Ibu ngaji kepada Mbah Mad maka saya sebagai anak Ibu baiknya juga ngaji kepada putranya Mbah Mad, seperti menyambung sanad.
Alhamdulillahnya saya punya kesempatan untuk mengikuti pengajian rutinan Selasan. Senin, 30 Desember 2024 setelah piket jaga pondok (piket jaga pondok ketika liburan) saya memutuskan pulang dari Jogja ke Caruban agar besoknya, selasa, 31 Desember saya bisa hadir pengajian rutinan Selasan. Sebelumnya, Jum’at, 27 Desember 2024 saya berziarah ke makam Mbah Mad sebelum pulang dari Caruban ke Pondok di Jogja untuk piket. Sebelum berziarah saya nongkrong di parkiran Makam Santren, makam umum tempat diistirahatkannya Mbah Mad. Saya mencari informasi pengajian rutinan Selasan dari pedagang di area parkiran. Setelah mengkonfirmasi bahwa ngajinya tidak libur dan kitab yang diampu apa akhirnya saya ambil kepusan tadi, setelah piket, pulang dan ikut ngaji.

Makam Mbah Mad Watucongol @azwar
Seperti cerita Ibu, pengajian rutinan Selasan yang saya hadiri juga ramai. Bedanya saya bisa ngaji dekat di belakang Gus Ali, pengampu pengajian rutinan Selasan dan sungkem dengan beliau. Karena informasi yang saya cari ternyata meleset, jadwal ngaji yang saya dapat mulai jam sembilan ternyata mulai jam sebelas, saya hadir terlalu awal.
Gus Ali mengkaji dua kitab, kitab al-Ibriz dan Kitab Durratun Nashihin. Dari ngaji beliau saya menulis sebuah catatan bahwa orang yang berilmu harus memperhatikan keimanan dan ketaqwaannya. Karena kalau orang-orang yang berilmu itu mau iman dan bertakwa maka tatanan dunia ini tidak akan rusak. Bayangkan masyarakat kecil yang mencuri singkong untuk melanjutkan hidup dihukum lebih berat ketimbang pejabat korup yang mencuri uang rakyat hanya untuk nafsunya. Pejabat tentu orang yang berilmu, buktinya ia bisa menjabat, tapi mengapa ia korupsi? karena keimanan dan ketakwaannya bermasalah. Maka keimanan dan ketaqwaan penting bagi orang yang berilmu untuk menjaga ilmunya agar tidak digunakan untuk perbuatan yang tidak baik, untuk tidak korupsi.

Pelakat PP. Darussalam Watucongol @azwar
Mayoritas jamaah pengajian yang hadir adalah Mbah-Mbah yang kelewat sepuh dan saya pikir saya adalah jamaah yang paling muda selain beberapa santri Pesantren Darussalam Watucongol. Maka saya juga banyak berinteraksi dengan banyak Mbah-Mbah sepuh.
Ada salah satu Mbah-Mbah yang saya taksir umurnya sudah lebih dari 60 tahun, namanya Mah Badri. Saya banyak mengobrol dengan Mbah Badri sambil menunggu ngaji dimulai. Mbah Badri hadir sendiri, berbeda dengan banyak jamaah lain yang datang rombongan dengan mobil angkot atau pick up. Ia diantar anaknya dari rumah yang nantinya dijemput jika ngajinya sudah selesai. Kata Mbah Badri, ia selalu berangkat ngaji Selasan dan jika anaknya tak bisa mengantar ia berangkat jalan kaki. Disela-sela obrolan saya dengan Mbah Badri ia selalu menasehati saya dengan sebuah syair jawa: “wong ngaji alamat e bejo, wong amal alamat e mulyo, sesok bakal mlebu suargo” (Orang yang ngaji akan beruntung, orang yang beramal akan mulia, besok akan masuk surga).
Dari cerita Ibu tentang pengajian rutinan Selasan dan pertemuan saya dengan Mbah Badri di pengajian rutinan Selasan ada kesamaan. Ibu rela berjalan kaki menempuh perjalanan 7 km, 1,5 jam perjalan untuk mengaji dan Mbah Badri yang masih semangat untuk mengaji walau sudah kelewat sepuh. Keduanya sama-sama punya keteguhan yang kuat untuk menuntut ilmu. Ini menjadi sebuah pelajaran bagi saya yang masih muda untuk terus semangat, punya keteguhan yang kuat untuk terus menuntut ilmu.

Posting Komentar