Apakah cintamu mengikuti wazan فاعل yang salah satu faidahnya: المشاركة (bersekutu), saling mencintai? Kau mencitainya lalu apakah ia mencitaimu? atau cintamu mengikuti wazan تفاعل yang salah satu faidahnya: إظهار ما ليس في الواقع (Menjelaskan sesuatu yang tak sebenarnya), hanya bohong?! Sakit?! Sebab dalam Imam Syafi'i dalam Diwannya mengatakan:
إن الحب من طرف واحد ليس حبا، إنما الحب مبادلة و مشاركة وجدانية
و من البلاء أن تحب إنسانا و لا يحبك
"Sesungguhnya cinta yg datang dari satu jalan bukanlah cinta. Karena sesungguhnya cinta itu barter (hubungan timbal balik), persekutuan & (sesuatu) yang emosional."
"Termasuk dari musibah (ujian), kamu mencintai seseorang sedangkan dia tak mencintaimu."
Ya, cinta yang bertepuk sebelah tangan memang sangat menyakitkan. Walaupun pencinta sejati, kata para pujangga tak layak menerima balasan dari yang ia cintai. Karena pencinta sejati seharusnya mencitai dengan tulus dan ikhlas. Tapi cinta yang begitu sangat berat dan lebih baik dihindari.
“Budalo malah tak duduhi dalane. Metu kono belok kiri lurus wae. Rasah nyawang sepionmu sing marai ati. Tambah mbebani.” Lirik lagu “Kartonyono Medot Janji” yang dinyanyikan Deny Caknan ini untuk orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan rasanya bisa dijadikan nasehat agar cinta yang seperti itu harusnya ditinggalkan dan dilupakan saja.
Lalu bagaimana caranya agar cinta tak bertepuk sebelah tangan? Pilihlah mana yang seharusnya dicintai dan mana yang tak perlu dicintai. Cinta yang tak terbalas timbul karena salahnya memilih mencintai. Pilihan yang tepat untuk dicintai dan tak akan mengecewakan hanya cinta pada-Nya. Jika kita mencitai Allah maka kita juga harus mencintai Rasul-Nya, sebab Allah dalam firmannya:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“. (QS. al Imron: 31).
Mencitai Rasulullah berarti kita taat kepadanya dan mengikuti sunah-sunahnya. Erich Fromm seorang Sosiolog Jerman menyebut cinta model ini sebagai “Love to be” (cinta yang menjadi). Ketika pencinta mencintai yang dicintai, berarti pencinta “menjadi” yang dicintai. Pencinta melebur dengan yang dicintainya. Sakitnya dia berarti sakitku, bahagianya dia berarti bahagiaku, dan seterusnya. Jadi jika kita mencintai Rasulullah maka kita seharusnya menirunya. Jika tidak bisa bagaimana? Mengutip dari KH. Ahmad Mudjab Mahalli dalam buku “Muslimah dan Bidadari”: “Cinta kepada Rasulullah memerlukan bukti. "Aku cinta padamu ya Rasulullah" tidaklah cukup. Salah satu bukti cinta paling mudah dilakukan adalah membaca shalawat.” Jadi cinta kita kepada Rasulullah bisa dibuktikan dengan sebarapa banyak kita bersholawat padanya.
Jadi sudahilah cinta yang tak berarti dan tak ada manfaatnya. Rugi sekali jika energi yang ditimbulkan dari cinta hanya menimbulkan sakit atau malah berdampak kepada hal yang negatif. Sebagai seorang santri yang menuntut ilmu seharusnya tahu mana cinta yang akan melancarkan kita untuk mendapatkan ilmu yang manfaat dan berkah.


Posting Komentar