Dunia Samin; Samin yang Bodoh Namun Cerdas dan Banyak Akal


“Rakyat sudah cukup tahu, rakyat sudah lama menderita dan diperas sampai ke tulang-tulangnya. Namun rakyat adalah kekuatan. Rakyat adalah kekuatan yang tidak bisa dibendung. Rakyat adalah kekuatan yang tidak pernah bisa dibunuh dan dimatikan. Ia hidup terus sepanjang zaman. Dan kalau pemimpin-pemimpin yang kerjanya memperkaya diri sendiri itu masih juga mau bicara, omongan mereka itu seperti gonggongan anjing, tidak seorang di dunia ini yang mengerti artinya.”

Kutipan di atas diambil dari Novel Dunia Samin yang ditulis oleh Soesilo Toer, adik sastrawan kondang Pramoedya Ananta Toer. Novel ini terdiri dari tiga bagian: Bagian pertama, Dunia Samin I terbit dengan judul Suka-Duka si Pandir pada tahun 1963 oleh N.V. Nusantara-Bukittinggi-Djakarta dan ditulis oleh Soesilo Toer sebelum berangkat ke Uni Soviet (Sekarang Rusia) pada tahun 1962. Bagian kedua, Dunia Samin II ditulis Soesilo Toer ketika menempuh pendidikan di Uni Soviet. Dua tahun setelah dia belajar di sana. Dapat dilihat di akhir naskah yang tertulis “Leninskii Prospekt, Moskwa, 26 september 1964. Dan bagian ketiga Dunia Samin III ditulis Soesilo Toer setelah keluar dari penjara sebagai tapol Orde Baru selama lima setengah tahun tanpa pengadilan. Dapat dilihat di akhir naskah yang tertulis “Jakarta, 3 Januari 1979 Jalan Multikarya 16 Utankayu.”

Pataba Press, Blora menerbitkan Dunia Samin secara utuh dengan ketiga bagian tadi. Dengan demikian dapat dibandingkan alam pikir Soesilo Toer sebelum ke Uni Soviet, ketika di Uni Soviet dan setelah dari Uni Soviet. Novel ini terpilih menjadi novel terbaik pada pada penghargaan Prasidatama tahun 2018. Sebuah penghargaan yang diberikan kepada instansi/lembaga dan individu yang menerapkan penggunaan bahasa secara baik dan benar dalam beberapa ranah penggunaan di wilayah Provinsi Jawa Tengah, tokoh yang aktif dan bergiat dalam kesastraan di Jawa Tengah, serta kepada buku sastra berkualitas oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Dalam novel ini tergambar sebuah kesenjangan sosial dan ketidakadilan dalam lingkup desa. Desa yang dalam benak banyak orang selalu tergambar sebuah kemakmuran bagi masyarakatnya ternyata tak seindah itu. Ironisnya itu terjadi karena ulah pejabat desa yang bersekongkol dengan orang kaya, para tengkulak. Dari konflik tadi Soesilo Toer menghadirkan tokoh bernama Samin sebagai tokoh utama.

Tokoh Samin dalam Dunia Samin mirip-mirip dengan kisah Abu Nawas di Timur Tengah dan Nasruddin Hoja di Armenia. Samin sama seperti mereka, kerap dianggap bodoh, pemalas, bahkan gila. Bersamaan dengan anggapan itu Samin adalah tokoh yang cerdas, banyak akal, jenaka, dan, penuh satire.

Samin, petani lulusan kursus buta huruf bisa sangat-sangat peduli dengan lingkungan dari malapetaka ketimbang orang-orang lulusan sarjana dan punya pekerjaan "lebih mulia" darinya. Ia sangat mengkhawatirkan desa gagal panen; kelaparan melanda, warganya miskin dan sengsara.

Samin dalam Dunia Samin yang di hadirkan oleh Soesilo Toer adalah prototipe dari tokoh nyata, Samin Surosentiko yang juga kerap dianggap bodoh, pemalas dan pembangkang yang bikin repot Belanda pada masa penjajahan. Perlawanannya dengan diam, enggan membayar pajak membuatnya dan pengikutnya (saminisme) diburu dan diasingkan.

Samin dalam Dunia Samin dan Samin Surosentiko yang sekarang pengikutnya disebut dengan Sedulur Sikep sama-sama Samin yang mencinta lingkungan, sama-sama mencintai tanah air dan bangsanya.

Posting Komentar