Mbah Moedjair; Santri Sekelas Ilmuan


Apakah kalian pernah mengira bahwa ikan Mujair dengan nama latin Oreochromis Mossambicus yang kerap nangkring di piring warung-warung makan lesehan itu diambil dari nama penemunya? Lalu, apakah kalian pernah mengira pula bahwa ikan Mujair itu ditemukan bukan oleh seorang peneliti, akademisi atau ilmuan lulusan universitas dengan seabrek ijazah?

Yanu Aribowo dalam bukunya: “Moedjair; Sejarah Tersembunyi Ikan Mujair” menceritakan kisah Moedjair menemukan ikan yang misterius itu.

Ya, ikan Mujair ditemukan oleh Mbah Moedjair, Seorang yang tak pernah merasakan bangku sekolah. Ilmuwan dan inovator itu adalah Santri yang lahir dari rahim Pondok Pesantren. Kurang lebih tujuh tahun sejak tahun 1910 ia menimba ilmu kepada Kyai Sholeh Kuningan. Selain belajar ilmu agama Ia juga belajar budidaya ikan pada bilik-bilik kolam Pesantren Kuningan, Ds. Kuningan, Kec. Kanigoro, Kab. Blitar. Bahkan setelah menikah (1916) ia masih membantu Kyainya membuat kolam untuk budidaya ikan Gurame (1917).

Barokah khidmatnya kepada Kyai dan pesantren pada bilik-bilik kolam, hidupnya tak pernah jauh-jauh dari kolam dan ikan. Ia sudah sangat mencintai apa yang ia tekuni di pesantren, maka ketika membangun rumah ia menyisakan sepetak tanah untuk dijadikan kolam budidaya. Sampai pada akhirnya ketika perayaan Suroan, 25 Maret 1936 M/1 Muharram 1355 H di perairan payau, muara sungai pantai Serang Ia menemukan sekelompok ikan yang memiliki keunikan.  Setelah mandi bersuci di pantai Serang ia menangkap ikan itu dan membawanya pulang untuk dibudidayakan.

Namun ikan yang ia tangkap di air payau itu setelah menempuh perjalanan jalan kaki kira-kira 37 Km dari pantai Serang ketika sampai di kolam air tawar rumahnya di desa Papungan mati tak tersisa. Dengan ketekunan dan ketabahannya Ia kembali lagi ke muara pantai Serang dengan beberapa penyesuaian seperti mencampur kolam air tawarnya dengan air payau dan membawa ikan dengan berhati-hati tanpa guncangan. Sampai kurang lebih 10 kali percobaan barulah Ia berhasil. Setelah menempuh perjalanan 2 hari 2 malam perjalanan kaki dengan membawa pulang kurang lebih 30 ekor ikan. Dari kurang lebih 30 ekor ikan tadi setelah diamati ada sepasang ikan yang kondisinya berbeda, maka cepat cepat ia pisahkan. Setelah kurang lebih 4 bulan sepasang ikan tadi mulai berkembang biak dan mulai dikenal dengan nama ikan Mujair.

Dengan pesatnya perkembangan ikan Mujair, banyak yang menaruh perhatian. Bagaimana tidak, hampir semua ikan Mujair yang tersebar di berbagai lintas benua adalah keturunan dari ikan yang diasuh oleh Mbah Moedjair. Ikan temuannya diboyong ke Surabaya pada Konferensi Ahli Perikanan Darat (1939). Bahkan diterbangkan ke Eropa, ke Natuurhistorisch Museum, Leiden, Belanda untuk diidentifikasi. Pada masa Jepang ikan Mujair menjadi senjata biologis yang ampuh melawan malaria yang menjalar. Akibatnya Ia mendapat beberapa penghargaan. Salah satu penghargaan atas usaha Mbah Moedjair adalah pemberian nama Moedjair pada ikan yang ditemukannya dari Pemerintahan Hindia Belanda melalui asisten residen Kediri. Penghargaan dari Pemerintahan Republik Indonesia adalah dari Kementerian Pertanian tahun 1951 dan Penghargaan Internasional diterima dari Konsul Komite Perikanan Indo Pasifik tahun 1953.

Sejarah kita telah mencatat; Mbah Moedjair sebagai seorang Santri lulusan Pesantren mampu berkelas dengan ilmuan. Akibat kegigihan dan ketekunannya pada bidang yang ia cintai sejak berkhidmat pada Kyai Sholeh Kuningan di Pesantren Kuningan membuahkan hasil. Kolam-kolam ikan di samping rumah yang ia jadikan laboratorium berhasil menyulap ikan air payau menjadi ikan air tawar yang cepat besar dan berkembang biak. Tentu itu tak lepas dari ketekunan dan kegigihan dalam bidang yang ia tekuni sejak nyantri. 

Persis seperti yang didawuhkan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pemimpin resolusi jihad (21-22 Oktober 1945, yang sekarang kita kenal dengan Hari Santri) dalam kitab Adabul Alim Wa Muta’alim;

فينبغى أن يثبت على كتاب حتى لا يتركه أبتر، وعلى فن حتى لا يشتغل بفن آخر قبل أن يتقن الأول، وعلى بلد حتى لا ينتقل إلى بلد آخر من غير ضرورة، فإن ذلك يفرق الأمور ويشغل القلوب ويضيع الأوقات

“Santri hendaknya benar-benar fokus pada satu kitab tertentu, sampai tidak ada bagian yang terlewatkan. Begitu juga Santri sebaiknya fokus pada satu bidang pelajaran saja dan tidak menyibukkan diri dengan bidang pelajaran lain sebelum benar-benar menguasai bidang pelajaran yang pertama tadi. Santri juga sebaiknya tidak berpindah dari satu daerah ke daerah lain tanpa kondisi darurat. Karena sesungguhnya sikap seperti itu akan menimbulkan persoalan; memecah-belah konsentrasi, menyibukkan hati (menunjukan kebosanan) dan menyia-nyiakan waktu.”

Selamat Hari Santri. Semoga kita sebagai Santri tak kenal bosan untuk ngaji dan belajar, dimanapun dan sampai kapanpun. Mampu memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara pada bidang yang kita minati dan tekuni sebagai Santri.

Posting Komentar